DUKA MENTAWAI DAN MERAPI
Belum lama ini bangsa Indonesia dihantam oleh dua bencana alam yang berbeda yang menelan korban jiwa yang tidak sedikit. Bukan hanya nyawa tapi bencana ini juga mengakibatkan kerugian materi yang tidak sedikit. Bencana tersebut adalah meletusnya gunung merapi di Jogjakarta dan Tsunami di mentawai. Ini (seharusnya) merupakan duka bangsa Indonesia. Namun disaat bencana menimpa saudara kita di merapi dan mentawai para anggota dewan kita malah sedang jalan-jalan kenegeri para dewa Yunani dengan tujuan belajar etika disana. Emang tidak salah juga mereka studi banding ke Yunani, namun waktunya yang tidak tepat menurut saya. Sebelum berangkat mereka banyak mendapat kecaman dari berbagai pihak, alangkah lebih baiknya mereka menunda dulu keberangkatan sampai konflik di negeri ini sedikit berkurang. Seharusnya anggota DPR tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk belajar, cukup pergi ke merapi, karena ada seorang sosok yang pantas ditiru oleh para anggota dewan kita disana, dia adalah Mbah Marijan. Dengan mengenyampingkan sisi kepercayaan Mbah Marijan terhadap makhluk ghaib yang ada di gunung merapi, ada hal yang pantas dicontoh oleh para anggota dewan pada diri Mbah Marijan. Sang juru kunci merapi yang digaji Rp. 20.000,- perbulan itu mampu menjaga tanggung jawabnya sampai akhir hayatnya, bahkan dia meninggal dalam rangka menjalankan tanggung jawabnya sebagai penjaga merapi. Lalu apa yang telah dilakukan anggota DPR yang mengemban amanah rakyat sampai saat ini? Tanyakan saja pada mereka. Mereka malah mengeluarkan statement bahwa anggota DPR tidak akan turun ke lapangan karena bukan tugas mereka. Berkunjung ke lokasi bencana bukanlah didasari karena tugas, namun karena sisi kemanusiaan seseorang, apa iya sisi kemanusiaan para anggota dewan telah hilang? Astaufirullah. Timbul pertanyaan besar dalam benakku : APA BENAR PARA ANGGOTA DEWAN ADALAH BENAR-BENAR WAKIL KITA DI PEMERINTAHAN? Kalau pun iya. Aku tidak sudi diwakili oleh orang-orang seperti itu.
Utuk merapi dan mentawai, melalui tulisan ini aku pengen menyampaikan rasa belasungkawa dan turut berduka cita atas bencana yang telah menimpah kalian. Ini bukan hanya derita kalian tapi derita kita semua, dan yakinlah tuhan pasti punya rencana yang lebih agung dan kita harus dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari bencana ini. Tak ada yang bisa aku lakukan buat kalian, aku tak punya kekuasaan untuk membuat keputusan, tak bisa kesana untuk sekedar menyumbangkan sedikit tenaga karena aku tak punya uang untuk kesana, yang bisa aku lakukan adalah berdoa untuk kalian. Semoga derita dan bencana ini cepat belalu dan berganti dengan suka cita.
Untuk Mbah Marijan, mungkin bukan gelar pahlawan yang engkau terima, tapi profesionalitasmu melebihi dari orang-orang yang menyebut dirinya professional, termasuk saya sendiri.
KEEP SPIRIT JOGJA DAN MENTAWAI !!!!
YOU WILL NEVER WALK ALONE……




